Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia

Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia Koran Sindo Jum'at, 24 November 2017 - ...

Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia

Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia

Koran Sindo

Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia
Teolog dan Pemerhati Budaya Tom Saptaatmaja.
A+ A- Tom Saptaatmaja
Teolog dan Pemerhati Budaya


INDONESIA kembali ke­hi­lang­an salah satu tokoh penting. Men­teri sekretaris negara di era Presiden Abdurrahman Wa­hid, Djohan Effendi, me­ning­gal dunia di Geelong, Aus­tra­lia, Jumat (17/11). Sejak be­be­rapa tahun belakangan ini, dia berkutat dengan kondisi ke­se­hatannya yang terus me­nu­run. Dia dikabarkan sudah em­pat kali mengalami serangan stroke. Menurut keluarga, je­na­zah Djohan tidak akan di­pu­lang­kan ke Indonesia, tapi di­ma­kamkan di Geelong.
Pria yang lahir di Kan­dang­an, Hu­lu Sungai Selatan, Kali­man­tan Selatan, 1 Oktober 1939 itu di­ke­nal sebagai cen­de­kia­­w­an mus­lim terkemuka, pe­mi­kir teo­logi keberagaman, dan pe­rintis dia­log lintas agama. Pe­mikiran Djo­h­an senada dengan ­pe­mi­kir­an Abdurrahman Wa­hid atau Gus Dur, yang ditandai de­ngan ke­terbukaan, toleransi, dan amat meng­hargai per­be­da­an. Pe­mi­kir­an demikian jelas amat positif ba­gi bangsa yang ma­j­emuk ini.
Jika dikaji, pemikiran ter­se­but bertolak dari kenyataan bah­wa agama-agama besar s­e­per­ti Yahudi, Kristen, dan Islam me­rupakan pewaris satu ke­ya­kin­an yang sama, yakni iman Ibr­a­him (”Abrahmic Religion”). Le­luhur dari ketiga agama besar ini adalah Ibrahim, yang men­jun­jung monoteisme. Jadi, anak-cucu Ibrahim perlu hidup ru­kun dan saling menghargai, de­mi perdamaian du nia.
Tidak heran, guna men­do­rong dialog, Djohan gemar meng­­ibaratkan para penganut ag­a­­ma samawi sebagai umat yang sama-sama mendiami se­buah rumah besar yang banyak ka­marnya dan masing-masing mem­punyai ka­mar sendiri. Saat di dalam ka­mar,setiap peng­hu­ni kamar bisa meng­gunakan dan merawat ka­mar­nya sendiri-sen­diri serta bo­leh berbuat apa pun di dalamnya. Na­mun saat ber­ada di ruang ke­luar­ga atau di ruang ta­mu, ke­pen­t­ingan masing-masing kamar di­le­bur un­tuk ke­pen­tingan rumah ber­­sa­ma. Jadi, p­a­­ra penghuni ru­mah tanpa mem­persoalkan asal ka­­mar masing-masing harus ber­satu merawat rumah itu dan mem­­pertahankannya secara ber­sama-sama dari serangan yang da­tang dari luar.
Pemikiran tersebut jelas amat co­cok dengan kebinekaan In­do­ne­­sia. Apalagi para pendiri bang­sa sudah mewariskan se­m­bo­yan ”Bhin­neka Tunggal Ika”. Sem­bo­y­an ini berasal dari kitab Su­ta­so­ma (1380) kara ngan Em­p­u Tan­tu­lar di zaman kejayaan Ma­j­a­pa­hit. Lengkapnya berb­u­nyi ”Bhi­n­ne­ka tunggal ika, tan ha­na dharma mengrwa ”. Berbeda-beda cara ber­­agama, tetapi se­mua­nya satu da­lam kebenaran tertinggi.
Maka Djohan juga amat ter­bu­­ka terhadap pemikiran apa pun yang bisa mempertemukan s­e­­sama anak-cucu Ibrahim, khu­sus­n­ya yang mendiami ne­ge­ri ini. Mi­salnya pemikiran pe­re­nia­lis­me. Seperti diketahui, is­tilah pe­re­n­ialisme pertama kali di­gu­na­kan Agustinus Steuc­chus dalam bu­kunya, De Pa­renni Philosophia, ter­bit 1540. Frithjof Schuon juga me­nulis Is­lam Filsafat Perenial (Mi­zan 1998). Filsafat atau pe­mi­kiran ini meyakini bahwa ­ke­be­nar­an abadi selalu berada di pusat se­­mua tradisi spiritual entah Hin­­­du, Kristen, atau Islam.
Menurut Djohan yang di­ke­nal luas sebagai sosok yang jujur dan sederhana, perenialisme sa­­ngat cocok dan relevan, ka­re­na bi­sa menghindarkan peng­anut aga­m­a dari fanatisme buta atau pe­mikiran radikal yang sempit.
Lagipula, dalam sejarah su­dah terbukti perenialisme amat po­sitif sumbangannya, sebab se­lalu mencoba menyadarkan se­tiap pemeluk agama bahwa se­tiap agama punya pekerjaan ru­mah (PR) yang sama, yakni me­­majukan persaudaraan an­tar­manusia tanpa memandang aga­ma dan alasan primordial lain, komitmen pada per­da­mai­an, dan antisegala diskriminasi, ke­kerasan, dan penindasan.
Untuk itu, setiap pemeluk aga­ma perlu terus mendorong ter­jadinya dialog, kerja sama, dan segala bentuk interaksi p­o­si­tif demi persaudaraan sejati di da­lam satu bumi yang sama, yang diciptakan oleh Satu Pen­cip­ta yang sama pula.
Sayangnya, dalam menaf­sir­kan semangat perenial itu ka­dang bisa muncul pendapat sim­p­listis seolah ”semua agama sa­ma saja, tanpa ada perbedaan sa­ma sekali”. Ini yang disebut oleh almarhum Djohan sebagai ke­salahan sinkretisme yang sim­plistis, relativ isme agama yang naif, atau paham plura­lis­me yang gagal. Mungkin me­re­ka yang berpaham seperti itu le­bih didorong oleh semangat un­tuk sekadar menyenangkan pi­hak lain. Jelas, pandangan de­mi­kian sangat keliru dan harus di­hindari kalau kita ingin me­ngem­bangkan dialog dan int­er­aksi yang jujur di antara ber­ba­gai umat beragama.
Meski demikian, semoga ki­ta ju­ga tidak jatuh dalam s­e­ma­ngat eks­k­lusif ekstrem yang ha­nya memutlakkan perbedaan aga­ma. Mereka yang berpaham eks­klu­sif ini tegas menyatakan, ”Ha­nya agamaku yang paling be­nar, aga­ma lain adalah sesat.” Ti­dak per­lu ada dialog lagi. Pan­dang­an d­e­mikian dalam psi­ko­logi dis­e­but narsistis.
Bagi mereka, agama berada di atas Tuhan dan manusia. Me­re­ka ingin membela agama mati-matian, termasuk meng­gu­na­kan berbagai cara kek­er­as­an. Padahal menurut Gus Dur, sa­habat dekat Djohan, Tuhan ti­d­ak perlu dibela.
Itulah sebabnya Djohan ti­dak lelah memperjuangkan dia­log agar umat beragama ter­hin­dar dari penghayatan narsistis, yang antitoleransi dan gam­pang memicu konflik. Bukan ha­nya konflik antaragama, m­e­lain­kan juga konflik dalam in­ter­nal keagamaan sendiri, yang bia­sanya justru lebih sengit dan ber­sifat laten.
Maka agar perbedaan dan per­samaan agama tidak me­nim­bulkan konflik dan me­ru­sak persatuan bangsa, yang di­per­lukan bukan hanya dialog dan interaksi antaragama, me­lain­kan juga dialog dan inter­aksi dalam internal penganut aga­ma yang sama.
Dalam dialog dan interaksi de­­ngan siapa pun, tidak keliru ji­ka kita tetap meyakini agama ki­ta yang paling baik ”bagiku”. Cu­ma, ki­ta jangan terjebak dalam aro­gan­si bahwa yang lain pasti se­sat. De­ngan pemahaman se­per­ti itu, ki­ta akan bisa berkata se­perti Gan­dhi: ”Aku meng­hor­mati ag­a­ma orang lain, seperti aku meng­hor­mati agamaku sendiri!”
Jelas pemikiran Djohan, se­per­­ti dibe berkan sebagian di atas, ti­dak boleh ikut di­ku­bur­kan be­r­sa­ma jasadnya. Kita per­lu terus meng­hidupkan pe­mi­kir­an in­klu­sif seperti itu demi per­satuan dan ke­utuhan bang­sa, terlebih ketika hari-hari ini ra­dikalisme agama se­dang meng­ancam Pancasila dan hen­dak memecah belah anak-anak bangsa.
Dan di atas segala-galanya, Djo­­han bukan seorang te­or­e­ti­kus. Dia praktik langsung di la­pang­­an dengan menyapa dan ber­­silaturahim dengan sau­dara­-sau­daranya yang be­rbeda aga­ma. Djohan dikenal luas se­ba­gai so­sok yang telah melintas b­a­tas. Bu­kan seorang cen­d­e­kia­wan yang terjebak dalam tem­pu­rung aga­manya sendiri. Poin pen­ting­n­ya, kita semua tidak sa­ma, ter­ma­suk dalam memilih aga­ma. Na­mun, kita selalu bisa be­kerja sa­ma demi kerukunan, keut­uh­an, dan kejayaan bang­sa. Dalam tu­lisannya ”Agama dan Ke­war­ga­negaraan”, Menag Luk­man Ha­kim Saifuddin su­dah men­je­las­kan bahwa men­ja­ga keutuhan bang­sa me­ru­pa­kan kewajiban se­tiap penganut aga­ma se­ka­li­gus setiap warga ne­gara (Opini KORAN SINDO, 22/11). * (mhd) Follow Us : Follow @SINDOnewsSumber: Google News | Berita 24 Kalsel

COMMENTS

Tulis Artikel
Nama

Hiburan,1,Lokal,2,Olahraga,2,
ltr
item
Berita 24 Kalimantan Selatan: Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia
Djohan Effendi, Dialog dan Persatuan Indonesia
https://cdn.sindonews.net/dyn/620/content/2017/11/24/18/1260141/djohan-effendi-dialog-dan-persatuan-indonesia-VHt.jpg
Berita 24 Kalimantan Selatan
http://www.kalsel.berita24.com/2017/11/djohan-effendi-dialog-dan-persatuan_23.html
http://www.kalsel.berita24.com/
http://www.kalsel.berita24.com/
http://www.kalsel.berita24.com/2017/11/djohan-effendi-dialog-dan-persatuan_23.html
true
4047913673859009494
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy